Archive for December, 2008


Biografi Singkat Dari Seorang BJ Habibi

Prof. Dr. Ing Baharuddin Jusuf Habibie

Lahir                       :Pare-Pare, 25 Juni 1936

Agama                   :Islam
Jabatan                   :
Presiden RI Ketiga (1998-1999)

                               Pendiri dan Ketua Dewan  

                               Pembina The Habibie Center

Istri                        :dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah

                                12 Mei 1962)

Anak                      :Ilham Akbar dan Thareq Kemal
Cucu                      :
Empat orang

Ayah                      :Alwi Abdul Jalil Habibie

Ibu                        :R.A. Tuti Marini Puspowardoyo

Jumlah Saudara        :Anak Keempat dari Delapan Bersaudara.

Singkat Cerita tentang Beliau:

Baharuddin Jusuf Habibie (lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 72 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Baik Alwi Abdul Jalil Habibie maupun R.A.Tuti Marini Puspowardojo bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A.Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunya anak seorang spesialis mata di Yogya, ayahnya bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. Ia bersaudara tujuh orang.[2]

Beliau belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Dia kemudian bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg, hingga mencapai puncak karir sebagai wakil presiden bidang teknologi. Pada 1973 kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.

 

 

Pendidikan :

1.      ITB Bandung, tahun 1954

2.      Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan  

     gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering,  

     Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).

3.      Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).

4.      Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.



Pekerjaan :

  1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger

Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.

  1. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-1973
  2. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
  3. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
  4. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
  5. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
  6. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
  7. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
  8. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.

Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan:

Theodore van Karman Award


Pelajaran Politik dari Seorang BJ Habibie

Mawas diri membuat BJ. Habibie berhasil melaksanakan banyak hal, sosok yang sangat kompleks namun cemerlang ini senantiasa mencengangkan para pengecamnya. Penentangan terhadap BJ Habibie berawal pada Januari 1974 saat ia kembali dari Jerman Barat ke Indonesia. Tak pernah mau di ajak korupsi, cerdas, efektif berpandangan jauh kedepan dan selalu siap dengan solusi permasalahan, membuat bahaya bagi kelompok-kelompok yang “vested interest”


Sebe
narnya siapa BJ. Habibie? apa yang membentuk pandangannya tentang hidup dan kehidupan? apa yang mendorong kegiatannya? dan segala macam pertanyaan tentang BJ. Habibie diulas dalam buku yang dikarang oleh Bilveer Singh dari Associate Profesor pada Departemen Political Science National University of Singapore yang diterbitkan oleh CIDESINDO ini menjawab pertanyaan seputar kehidupan BJ. Habibie, seputar demokrasi, politik dan keberhasilan-keberhasilan BJ Habibie di bidang Politik serta pengaruhnya terhadap perpolitikan di Indonesia.


Buku Habibie dan Demokratisasi di Indonesia yang di karang oleh Di karang oleh Bilveer Singh, diterbitkan oleh CINDESINDO Jakarta setebal 340 halaman ini cukup bagus untuk menambah pengetahuan kita seputar dunia politik dari sosok seorang BJ. Habibie.

 

 

Darimana Memahami Sosok Habibie?

 

 

Habibie merupakan figur yang kaya akan nuansa dan mampu berperan aktif hampir dalam segala bidang kehidupan dengan hasil yang memuaskan. Dengan julukan “manusia super”, habibie memiliki sekitar 25 jabatan strategis dan paling penting di Indonesia. Begitu besarnya kepercayaan yang diberikan Pak Harto terhadap doktor pertama dibidang aeronautika (kedirgantaraan) di Indonesia ini, sehingga Habibie merupakan sosok yang paling lama membantu presiden dalam kabinet pembangunan masa pemerintahan Presiden Suharto.

Hubungan antara Habibie dengan Suharto sangatlah erat, sehingga sangat besar kepercayaan Pak Harto terhadap Habibie. Pada tahun 1950 Suharto, saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade Garuda Mataram, bertugas di Ujungpandang untuk penumpasan Andi Azis. Secara kebetulan suharto dan pasukannya bermarkas tepat diseberang rumah keluarga Habibie di jalan Klaperlaan, Makassar. Suatu saat, di tengah malam, datanglah dua anggota keluarga Habibie ke markas. Mereka dalam kondisi menangis, memberitahukan bahwa sang ayah Alwie Abdul Jalil Habibie telah meninggal dunia karena serangan jantung. Dalam suasana duka jasa Pak Harto terhadap keluarga Habibie sangatlah besar.

Anak keempat dari delapan bersaudara ini dikenal sebagai pakar pesawat kelas dunia. Maka tersebutlah istilah “Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Metode Habibie.” Hasil karyanya dalam disain konstruksi pesawat konon menjadi buku standar yang dipakai Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dengan julukan “Mr. Crack”, Habibie mampu membuat formula penghitungan tingkat keretakan suatu pesawat. Implementasi atas formulanya tersebut saat menghitung struktur pesawat Airbus dan Boeing-747. Sebagaimana diakuinya, awal mula Habibie berperan aktif didalam Pemerintahan Indonesia adalah pada 28 Januari 1974 saat pertemuannya dengan Pak Harto di Jalan Cendana No. 8, Jakarta (kediaman Pak Harto). Masih terngiang dalam ingatannya bahwa Pak Harto pernah berkata : “Saudara Habibie boleh buat apa saja untuk pembangunan disini, Cuma satu yang tak boleh membuat revolusi”.

Dalam bidang politik Habibie memiliki kemampuan yang tidak kalah hebatnya dengan para pakar politik lainnya, bahkan melebihi dari mereka yang memiliki jam terbang yang sudah cukup lama dalam percaturan politik di Indonesia. Kiprah Habibie diawali dengan menjadi ketua umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990 di Malang, Jawa Timur.

Sejak memimpin ICMI, Habibie mulai mendekati tokoh-tokoh politik dan agama, hingga pelan tapi pasti beliau mulai mendapat tempat yang istimewa, khususnya dikalangan umat. Bahkan ada upaya untuk menjadikan Habibie sebagai tokoh altenatif Umat Islam Indonesia. Ditengah kontroversi terhadap pendirian ICMI (1990) yang berbau sektarian dan primordial, Habibie mendapat sorotan tajam. Dibawah Habibie, secara perlahan ICMI menyodok ke panggung politik, Beberapa rekan kerja yang membantu beliau di ICMI mulai memasuki gedung MPR. Dengan cara yang transparan Habibie menyatakan ketersediaanya jika rakyat mencalonkan dirinya menjadi wakil presiden.

“Apa ada manusia Indonesia yang berdedikasi dan berpendidikan, yang mampu mengatakan tidak kepada rakyat, jika rakyatnya meminta dengan hormat dan mandatarisnya juga meminta dengan hormat. Kalau ada, dia itu tak akan diusulkan oleh rakyat karena mentalnya brengsek. Saya tak pernah mengatakan bahwa saya mengejar itu, tidak benar. Saya tak pernah bermimpi, merekayasa, atau mengincar kearah itu. Jadi menteri pun tidak. Cita-cita saya menjadi insinyur sejati. InsyaAllah, nanti saya akan menjadi guru besar di ITB”, jelas Habibie seperti diuraikan dalam wawancaranya kepada Tempo, 1992.

Dalam kiprahnya harus diakui bahwa Habibie selalu unggul dan sudah pasti berada paling depan. Di dunia teknologi beliau nyaris tidak tertandingi hingga sulit tuk mencari penggantinya. Begitupula kiprahnya di dunia politik. Hubungan dekatnya dengan seorang pemimpin negara ikut memlancarkan peransertanya dalam pembangunan di Indonesia. Gerakannya mampu membuat “panas dingin” suhu perpolitikan Indonesia, beliau berhasil menjadi tokoh sentral di ICMI yang merupakan organisasi kaum terdidik muslim di Indonesia. Lewat ICMI, Habibie dekat dengan umat sekaligus rakyat. Sehingga posisi Habibie sangat politis, dan agaknya posisi Habibie layak dipandang sebagai alternatif kepemimpinan umat.

*Sumber : Wawancara Habibie, Penerbit Amanah Putra Nusantara

 

 

 

 

Habibie, Bacharuddin Jusuf

Sosok Manusia Multidimensional


Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang, ini selalu menjadi berita hangat . Pada masa emas kejayaan dengan segudang jabatan diemban, dialah manusia paling multidimensional di Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan selaksa harapan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri ini.

Agak aneh, memang, anak bangsa yang satu ini. Dia hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.


Di Indonesia dia 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Presiden RI ke-2 Soeharto


Itulah sosok dan kilas balik singkat perjalanan hidup B.J. Habibie, lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini. Dia penuh kontroversi dan merupakan sosok manusia paling multidimensional di Indonesia. Begitu banyak kawan-kawannya dan nyaris segitu banyak pula orang yang tak setuju dengan sepakterjang tokoh industri pesawat terbang kelas dunia yang memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya paling berkelas adalah Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences) pada pertemuan tahunan dan konggres ke-18 ICAs yang diselenggarakan di Beijing, China tahun 1992 dari Pemerintah China.

 

 

 

Ketika dia mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan didaulat menjadi Ketua Umum, misalnya, sebagai antitesa berdiri pula Forum Demokrasi (Fordem) pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang populis dan egaliter serta inklusif. ICMI, yang dalam perjalanan selanjutnya praktis menjadi kekuatan politik Habibie, oleh Gus Dur dituding sebagai sektarian karena itu kurang bagus untuk masa depan sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia.

Ketika pada 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang N-250 “Gatotkoco” kelas commuter asli buatan dan desain putra-putra terbaik bangsa yang bergabung dalam PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, kini menjadi PT Dirgantara Indonesia), dia diserang pelaku ekonomi lain bahwa yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah beras bukan “mainan” pesawat terbang.


Pemikiran ekonomi makro Habibie yang terkenal dengan Habibienomics, dihadirkan oleh lingkarannya sebagai counter pemikiran lain seperti Widjojonomics (yang sesungguhnya merupakan Soehartonomic). Ketika Habibie berhasil melakukan imbal-beli pesawat terbang “Tetuko” CN-235 dengan beras ketan itam Thailand, dia diledekin, pesawat terbangnya hanya sekelas ketan itam.


Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor Timur, satu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah payah oleh rezim Soeharto. Siapapun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Timor Timur, sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggul mutlak.

Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor-Timur(Tim-Tim), asatu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah-payah oleh Rezim Soeharto. Siapaun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Tim-Tim. Sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggulk merdeka.


Masalah Tim-Tim, salah-satu yang dianggap menjadi penyebab penolakan pidato pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Umum MPR RI hasil Pemilu 1999. Pemilu terbaik paling demokratis setelah Pemilu tahun 1955. penolakan ini membuat BJ, Habibie tidak bersedia maju sebagai kandidat calon presiden (Capres).

Kjetika Habibie menjabat presiden hampir tidak ada hari tanpa demontrasi. Demontrasi itu mendesak Habibie merepon tuntutan reformasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebebasan pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rekrutmen politik, kebebasan berserikat dan mendirikan partai politik, mebebasan berusaha, dan berbagai kebebasan lainnya. Namun kendati Habibie merespon tuntutan reformasi itu, tetap saja pemerintahannya dianggap merupakan kelanjutan Orde Baru . Pemerintahannya yang berusia 518 hari hanya dianggap sebagai pemerintahan transisi.

Keinginan Habibi mengakselerasi pembangunan sesungguhnya sudah dimulainya di Industri pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan menjalankan program evolusi empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat “berawal dari akhir dan berakhir diawal.”

Empat tahapan alih tehnologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi ituh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari CASA Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama- sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama antara aqual antara IPTN dengan Casa Spanyol.


Ketiga, mengintegrasikan seluruh tehnologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 pemumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire.


Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan bernama N 2130 berkapasitas 130 penumpang dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar AS.

 

Empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat didefinisikan “bermula dari akhir dan berakhir di awal,” memang sukar dipahami pikiran awam. Habibie dianggap hanyut dengan angan-angan teknologinya yang tidak memenuhi kebutuhan dasar tehnologi Indonesia, yang ternyata nenbuat sepeda saja secara utuh belum sampai.

Pemerintah orde baru sangat memanjakan program empat tahapan alih tehnologi Habibie dengan menempatkan berbagai proyeknya sebagai industri strategis yang menyedot banyak dana. Satu diantaranya, yang paling spetakuler, adalah IPTN, yang memerlukan subsidi.


Ketika masa reformasi, IMF mencantumkan dalam LOI (Letter Of Intent), bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh lagi memberikan subsidi kepada IPTN, (Perusahaan ini kemudian menjadi IPTD). Otomatis perusahaan yang sudah menyusun program produksi baru, terpaksa merumahkan dan mem-PHK- 6000 karyawannya.


Lalu, dalam kesempatan deklarasi pendirian Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MITI), Habibie menyebut hancurnya IPTN adalah ulah IMF yang menghambat Pemerintah RI membantu pengembangan pesawat terbang dengan mencantumkan klausal pencabutan subsidi dalam Letter Of Intent (LOI).

Nasionalisme
Istri adalah alasan utama Habibie untuk bolak-balik tinggal di Jerman. Pendamping hidup sekaligus teman suka dan duka yang sudah dikenal anak-anak umur 14 tahun, dr Hasri Ainun Habibie. Putri keempat H. Mohammad Besari itu disebut terbaring menjalani perawatan di sebuah rumahsakit di Jerman. Habibie ingin untuk selalu harus bisa mendampingi istri, dan harapnya istri juga akan sealu bisa mendampinginya. Menurut tim dokter yang menanganinya, Hasri Ainun belum dibenarkan tinggal atau berkunjung kedaerah tropis karena kelembabannya tinggi. Karena itu, tim dokter merekomendasikan untuk tinggal di Jerman sampai sehat secara tuntas.


Kendati demikian, kepulangan ke tanah air Habibie agaknya hanya karena dia ingin dikenang sebagai manusia yang baik. “Mungkin saat ini tak disadari. Tapi bisa jadi, berguna satu saat kelak, bila saya sudah tiada nanti,” tutur lelaki itu, lirih,’ demikian tulis Liputan6.com. Adalah stasiun TV SCTV ini, dikenal sangat dekat dengan Habibie, yang pada 2 Juli 2002 menyiarkan langsung dari Jerman kesaksian Habibie dalam kasus pelanggaran HAM berat Timtim untuk kebutuhan persidangan di Pengadilan Ad Hoc HAM Jakarta Pusat.


Habibie menyebutkan presiden itu bukan segala-galanya. Walau jenius dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang, Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan.

Menurutnya status, jabatan, dan prestasi bukan alasan untuk berubah terhadap lingkungan. Itulah sebabnya, ketika sudah menjadi RI-1 sikap Habibie terhadap lingkungan tetap tidak berubah. Malah semakin menampakkan watak aslinya, misalnya tidak mau diam dan bergerak sesuka hati padahal sudah ada aturan protokoler yang harus dipatuhi.

 

 

BJ Habibie Contoh Kedewasaan Berpolitik


Pengamat politik Anis Baswedan mengatakan, mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie telah memberikan contoh kedewasaan dalam berpolitik dan berdemokrasi ketika memutuskan menghentikan karir politiknya pada saat ditolaknya pertanggungjawabannya pada Sidang Umum MPR RI, Oktober 1999.  “Habibie itu tahu ambang batas kapan harus maju dan kapan harus berhenti. Saat itu beliau melihat bahwa pencalonannya sebagai presiden (yang dicalonkan kembali oleh Partai Golkar saat itu) tidak bisa diteruskan. Ini ditunjukkan Habibie sebagai praktek kedewasaan berdemokrasi,” katanya di Jakarta, Sabtu (02/08).  Anis mengatakan hal tersebut dalam acara peluncuran buku The True Life of Habibie, Cerita di Balik Kesuksesan karya Andi Makmur Makka yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Iman. Selain Anis, pembicara lainnya adalah Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif dan kolumnis Ninok Leksono, dengan moderator cerpenis muda Asma Nadia.

 

Menurut Anis, sikap kedewasaan berpolitik yang dicontohkan Habibie tersebut jarang dimiliki oleh para politisi maupun negarawan yang ada saat ini.

Ia menambahkan, meski hanya sekitar 17 bulan menjabat sebagai Presiden RI ketiga, namun Habibie telah mampu mengantarkan Indonesia melewati masa transisi dari orde baru ke orde reformasi, antara lain dengan keberhasilan mengesahkan sekitar 50 Undang-Undang.

“Di masa transisi Habibie memang seringkali menjadi `bulan-bulanan` karena ketika itu tidak ada yang `berani` langsung ke Pak Harto. Tetapi untuk masa transisi saat itu, jelas Indonesia perlu Habibie,” kata Anis yang mengaku pernah mewawancarai Habibie dalam suatu acara di TVRI ketika masih duduk di bangku SMA pada 1988.

Senada dengan itu, Yudi Latif menilai, BJ Habibie memang ditakdirkan hanya menjadi Presiden sebatas masa transisi, meski saat itu pun banyak orang yang juga tidak menyukainya.  “Kalau sekarang, misalnya, Habibie ikut maju di pemilihan presiden, saya kira tidak akan terpilih,” katanya.  Ia menilai, selain memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata, sosok Habibie juga memiliki kekuatan rohaniah atau etos keagamaan yang kuat, yang tercermin dari perilakunya.  Selain itu, katanya, Habibie juga memiliki kekuatan intuisi dan inspirasi, yang bisa mengatasi persoalan-persoalan di zamannya.

Sedangkan Ninok Leksono memuji sikap Habibie yang menerima dengan ikhlas penolakan pertanggungjawabannya sebagai presiden pada SU MPR 1999, meski sebenarnya Habibie adalah penggagas dari terlaksananya Pemilu 1999 yang merupakan pemilu pertama yang demokratis.

 

Sementara itu, penulis Andi Makmur Makka mengatakan, buku yang ‘embrio’-nya sudah ada sejak 1986 itu berupaya memberikan informasi yang jelas mengenai BJ Habibie sesuai fakta dan data yang ada. Maka memprihatinkan sejumlah buku tentang Habibie yang pengarangnya terlalu berani membuat analisa-analisa sendiri dari data-data yang dikumpulkan, padahal terkadang analisa tersebut tidak akurat.  Ia mencontohkan adanya sebuah buku tentang Habibie, yang menuliskan analisa pengarangnya mengenai pengunduran diri 14 menteri ketika Presiden Soeharto akan lengser pada tahun 1998.

“Di buku itu penulis membuat analisa bahwa ke-14 menteri yang akan mundur itu direkayasa oleh Habibie untuk meminta Soeharto lengser. Padahal hal seperti ini secara logis saja bertentangan semua karena 14 menteri itu tidak ada yang pernah melapor ke Habibie,” kata Makka. 

 

 

 

 

 

Habibie dan Ketulusan Pemimpin

HABIBIE hadir sebagai tokoh sentral. A Makmur Makka menuliskan biografinya dari dekat.

Etos keagamaan yang kuat, kata Yudi Latif, semestinya bisa mendorong bangsa ke arah produktivitas dan genius. Itulah yang kemudian ingin dibuktikan oleh BJ Habibie. Menurut direktur eksekutif Reform Institute itu, Habibie adalah sosok yang memiliki prasyarat rohaniah untuk berjalan ke arah pencapaian produktivitas dan kegeniusan. ”Habibie memiliki kekuatan akal dan kerja sejak kecil. Ia biasa mengaji, menyelam di air, dan lain-lain. Itu yang mendorongnya memiliki semangat kerja,” kata Yudi, saat peluncuran buku The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan di Jakarta, Sabtu (2/8).

Sejak awal kehadirannya, Habibie telah mengundang kontroversi, bahkan hingga ketika ia menjadi presiden. Idenya soal pemanfaatan hi-tech dan teknologi tepat guna disalahpahami banyak orang. ”Besar anggaran hi-tech Habibie jauh dari anggaran untuk proyek-proyek bawah tangan militer,” ujar Yudi. Bagi Habibie, jika ada teknologi yang bisa membuat bambu jadi awet dan tahan serangan rengat, itu adalah hi-tech. Dan, kemudian bambu itu dijadikan bahan untuk jembatan di desa-desa, misalnya, itu adalah teknologi tepat guna. ”Kehadiran Habibie membuat ilmu menjadi kesadaran publik,” puji Yudi.

Habibie memang bak magnet. Kecerdasannya mengundang banyak orang untuk menilik ilmu. Banyak yang ingin mengikuti jejak Habibie. Pandangan visioner Habibie mendorong banyak anak muda mempelajari ilmu yang dibutuhkan bagi negeri ini. ”Habibie membagi-bagikan visinya agar diikuti anak-anak muda. Habibie kemudian mengirimkan lulusan-lulusan SMA untuk belajar di luar negeri. Inilah rekayasa masa depan bangsa lewat anak-anak muda,” tutur Anis Baswedan, rektor Universitas Paramadina.

Habibie mempunyai alasan. Di kala negeri ini masih begitu muda usianya, tiba-tiba Habibie yang baru lulus SMA memutuskan belajar aeronotika, tentu bukannya tanpa alasan yang kuat. Habibie paham betul perlunya bangsa Indonesia mampu membuat pesawat sendiri sebagai alat transportasi antarpulau di Indonesia.


Hingga kemudian, Indonesia memiliki industri dirgantara. Itu pun, melalui perjuangan yang berat. Habibie harus mengetuk banyak pintu industri dirgantara di dunia. Tak ada yang meliriknya, hingga ia berada di depan pintu CASA, dan Habibie diterima. Jadilah industri dirgantara Indonesia bekerja sama dengan CASA. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) yang didirikan Habibie akan ia jadikan sebagai ‘Everett dari Timur’. Everett adalah tempat Boeing berproduksi di Amerika Serikat.

 


Perjalanan Habibie membuat sosoknya menjadi sentral, termasuk ketika ICMI berdiri, dan kemudian arus deras menyeretnya ke puncak kekuasaan. ”Habibie adalah sosok yang bisa melihat peluang, bisa mengumpulkan orang, mempunyai ide, sehingga ia bisa membangun Indonesia. Dia adalah entrepreneur di birokrasi,” kata Anis.


Intuisi yang ia miliki, menurut Yudi, membuat dirinya mampu berbuat banyak sebagai pemimpin reformasi. ”Intuisinya membebaskan dirinya dari kungkungan pengetahuan. Sehingga ia tak terpengaruh oleh kerumitan politik,” ujar Yudi. Maka, ia polos-polos saja ketika ia harus membuka keran kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, mempercepat pemilu, dan sebagainya.


Habibie telah berhasil sebagai pemimpin di era transisi. Ketika ia tak memiliki peluang mencalonkan diri lagi menjadi presiden di pemilu 1999, ia memilih minggir. Ia, kata Anis, mengakui kekalahannya, dan tak perlu ngotot maju lagi sebagai calon presiden.

Buku Habibie setebal 468 halaman ini disusun oleh A Makmur Makka. Novelis Asma Nadia menyebutnya sebagai buku biografi yang ditulis dengan hati. Ini adalah biografi yang tak melulu bicara sosok Habibie, tapi juga peranannya pada bangsa dan negara. Buku biografi yang baik, kata Yudi Latif, ”Adalah jika tak hanya berhenti pada tokohnya, melainkan juga peran tokoh itu pada bangsanya.”

 

Menulis buku ini, Makka tak hendak membuat analisis. Tapi, kata Anis, diperlukan pula penulisan analitis tentang Habibie, terutama soal kurun 17 bulan masa kepemimpinan Habibie. Bagi Anis, itu adalah masa krusial bagi masa depan bangsa Indonesia. pry

Sumber: Republika, Minggu, 10 Agustus 2008

 

 

BJ Habibie

Pilih Pemimpin yang Berkarya Nyata


Jakarta, Kompas 30 Mei 2008- Pilihlah pemimpin yang benar-benar mampu, jangan yang hanya banyak omong, populer, banyak muncul di koran dan televisi, tetapi pilihlah yang benar-benar mempunyai karya nyata. Mantan Presiden BJ Habibie menyampaikan hal itu dalam pidatonya di Ruang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam rangka memperingati Sepuluh Tahun Reformasi dan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional, Kamis (29/5). Pernyataan Habibie itu langsung disambut dengan riuh tepuk tangan.


Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita yang memimpin acara tersebut menyebut Habibie sebagai bapak reformasi. Habibie juga adalah pemimpin serba bisa, menguasai teknologi, ekonomi, dan juga politik. Dalam pidato yang berdurasi sekitar dua jam itu, Habibie menunjukkan secara rinci berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi Indonesia. Meski demikian, dia juga menawarkan sejumlah solusi konkret, bukan solusi normatif. ”Angka kemiskinan masih tinggi, angka pengangguran masih tinggi, investasi juga masih tersendat, dan perkembangan sektor riil stagnan,” paparnya.


Menurut Habibie, proses demokratisasi sudah terjadi, tetapi belum terkonsolidasi baik sehingga masih terjadi berbagai penyimpangan. Orientasi elite lebih kepada kepentingan politik dan jangka pendek daripada orientasi pembangunan bangsa dan jangka jauh ke depan. Kelembagaan politik pun masih belum melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya, baik di birokrasi, parpol, maupun lembaga perwakilan rakyat. Hal ini terjadi karena disorientasi elite tersebut. ”Fenomena politik uang masih menggejala,” ujar Habibie.


Ia mengingatkan, makna kelahiran Boedi Oetomo 20 Mei 1908 sesungguhnya adalah kesadaran cendekiawan tentang pentingnya sumber daya manusia dalam menentukan masa depan bangsa. Kesadaran ini pula yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Kebangkitan Teknologi Nasional 10 Agustus 1995, dan Reformasi 21 Mei 1998.


Kekurangan reformasi

Reformasi memberi kesadaran perlunya kebebasan untuk melengkapi kemerdekaan, yaitu kehidupan yang demokratis, menghormati hak asasi manusia, serta kehidupan bangsa yang mandiri, bermartabat, dan berdaya saing. Namun, reformasi juga masih banyak menyisakan kekurangan, antara lain tiadanya kesinambungan pembangunan bangsa karena Garis-garis Besar Haluan Negara sudah tidak ada lagi. ”Kepentingan rakyat dan umum juga terabaikan, sementara kepentingan pribadi, kelompok, dan partai lebih diutamakan,” katanya.


Hal lain yang memprihatinkan dirinya adalah proses pengembangan, pemanfaatan, dan pengendalian ilmu pengetahuan dan teknologi ditinggalkan, bahkan sebagian dihentikan. Untuk mengatasi kondisi saat ini, Habibie menyerukan untuk kembali ke dasar (back to basic). Dia mencontohkan seperti saat kita sedang menghadapi persoalan rumit ketika menggunakan komputer. ”Cara termudah restart saja,” ucapnya, langsung disambut dengan tepuk tangan. Habibie mengusulkan agar pos pelayanan terpadu dihidupkan kembali. Namun pos itu tidak terfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi menjadi pelayanan informasi, pembinaan keluarga, pendidikan, dan pendidikan lapangan kerja.


Dia juga mengusulkan pembangunan jalur kereta api cepat dua jalur 350 kilometer per jam antara Jakarta, Semarang, dan Surabaya yang memanfaatkan tenaga listrik terbarukan; pengembangan sistem perairan; membuat mekanisme Bulog yang transparan; pengembangan plasma golongan ekonomi lemah; memasyarakatkan produk dalam negeri; serta meminimalkan pengaruh fluktuasi ekonomi global terhadap dinamika kebijakan ekonomi nasional.


”Masalah yang kita hadapi memang kompleks dan tidak mudah. Jalan di hadapan kita memang masih panjang, terjal, dan berliku. Namun, tekad yang kuat, kebersamaan yang kokoh, dan semangat yang tetap menggelora merupakan modal kita untuk menuntaskan reformasi menuju Indonesia yang maju, mandiri, dan sejahtera,” ucap Habibie.
(sut)

 

 

 

 

Indo Pos Jumat, 30 Mei 2008,

 

Jangan Pilih Yang Hanya Populer

Habibie Tegaskan Tak Berniat Maju di Pilpres

 JAKARTA - Mantan presiden ketiga RI, B.J. Habibie, belum “pensiun”. Dia masih giat mengikuti perkembangan politik yang pernah digelutinya. Kemarin (29/5), dia mengikuti Refleksi 10 Tahun Reformasi dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di gedung DPR, Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Habibie menegaskan turut prihatin karena masih banyak kekurangan sampai reformasi memasuki usia 10 tahun. Karena itu, dia mengimbau agar rakyat nanti berani memilih pemimpin tidak hanya dari sisi popularitasnya. “Jangan hanya pilih (calon presiden, Red) yang populer karena sering masuk koran atau televisi,” tegasnya.Menurut dia, tingkat popularitas calon presiden yang tinggi tidak menjamin kualitas kepemimpinannya. “Pilihlah orang yang memiliki karya nyata, bukan yang hanya banyak omong,” ujarnya.  Sebab, kata dia, sebagian besar elite bangsa saat ini lebih berorientasi pada kepentingan politik jangka pendek. Mereka mengumbar janji hanya untuk visi kekuasaan.  Padahal, ujar dia, orientasi pembangunan bangsa yang memiliki jangka jauh ke depan lebih dibutuhkan negeri ini. Menurut Habibie, disorientasi elite tersebut semakin kuat menggejala di semua lini. “Baik di birokrasi, partai politik, maupun lembaga perwakilan rakyat,” tegas mantan Menristek pada era Soeharto tersebut.


Hal itu, kata dia, membuat masalah yang harus dituntaskan pemimpin ke depan akan sangat berat. “Saya yang sudah tua ini tidak pantas. Anda-Anda yang muda inilah yang harus memperjuangkannya,” katanya disambut tepuk tangan para anggota DPD yang hadir. Dia hanya berpesan, siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin bangsa ini harus amanah. “Jangan kurang ajar. Jangan lupa, kekuasaan diberi oleh Tuhan melalui rakyat. Rakyatlah pemilik sah kekuasaan itu,” ungkapnya dengan tekanan mendalam.

Habibie juga berharap ke depan ada mekanisme pertanggungjawaban presiden pada akhir jabatan menggunakan acuan semacam GBHN seperti pada masa lalu. “Siapa pun presidennya seharusnya tidak perlu takut,” ujarnya.

GBHN itu, kata Habibie, ditujukan untuk mewujudkan kesinambungan arah pembangunan bangsa. Sebab, kata dia, kebijakan pembangunan pada masa lalu banyak yang terputus. Misalnya, pengembangan, pemanfaatan, dan pengendalian ilmu pengetahuan serta teknologi yang dia rintis dulu banyak yang telah ditinggalkan, bahkan dihentikan.  “Ke mana negeri ini akan dibawa? Lihat saja Singapura dan Jepang yang tidak punya sumber daya apa-apa, tapi bisa maju karena teknologi,” tegasnya mengkritik.

 

 

 

Habibie, Bacharuddin Jusuf

Luncurkan Buku, Saya Tidak Mundur


Jakarta, Kompas 28/9/2006- Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapkan bahwa dia tidak pernah menyatakan mundur dari pencalonan presiden menjelang Pemilihan Umum 1999. “Saya menyatakan tidak bersedia karena saya merasa tidak memenuhi syarat,” ujarnya kepada para wartawan di kantornya di Kemang, Jakarta, Rabu (27/9).


Ia mengatakan, keputusan untuk tidak mendaftarkan diri atau mencalonkan kembali menjadi presiden setelah melihat pengalamannya menjadi anggota kabinet selama 20 tahun. Katanya, presiden ditugaskan melaksanakan program yang ditetapkan MPR.


Untuk itu, lanjutnya, presiden membutuhkan anggaran yang harus disetujui oleh DPR. Ia melihat anggota DPR beraneka ragam dan sulit diprediksi karena bisa yang putih dikatakan hitam dan hitam dikatakan putih. “Maka saya tidak mau, bukan karena untuk saya, tapi yang kasihan itu rakyat,” ujarnya.


Itulah, antara lain, yang mendorong Habibie pada Rabu pagi, 20 Oktober 1999, di kediamannya di Kuningan, mengumumkan untuk tidak mau dicalonkan menjadi presiden periode 1999-2004. Ia juga menunjukkan alasan yang berkaitan dengan pemungutan suara dalam sidang MPR sehari sebelumnya.


“Saya berpendapat, putra dan putri terbaik di Indonesia pun baru bisa pas-pasan menyelesaikan masalah di Indonesia, apalagi saya bukan yang the best,” ujarnya.


Dalam jumpa pers mengenai bukunya yang sangat laris, Detik- detik yang Menentukan, ia juga menyatakan tidak 100 persen yang ia alami dituangkan dalam buku itu, tetapi baru sekitar 70 persen. “Yang lain belum waktunya dikeluarkan supaya tidak disalahartikan dan bisa menghalangi jalannya demokratisasi di Indonesia,” ujarnya.


Ia mengatakan, buku tersebut ditulis untuk catatan bagi generasi penerus. “Supaya mereka akan lebih baik daripada Pak Habibie ini,” ujarnya.


Tentang pendapat-pendapat yang menyanggah kebenaran beberapa kalimat dalam buku itu, ia mengatakan, “Saya apa adanya, orang boleh berpendapat beda.”


Mengenai pendapat yang menyebutkan bahwa sebagian dari yang dituliskan dalam buku itu hanya ilusi, Habibie hanya mengatakan, “Apakah mereka itu hadir dalam peristiwa itu?”
Ia juga menyatakan penyesalannya karena pembangunan pabrik pesawat terbang yang dirintisnya tidak jalan. (OSD/JUP)

 

Selasa, 26 September 2006


Buku Habibie dan Senyum Sintong

”Baca sajalah buku itu. Baca saja.” Sintong Panjaitan terus berkelit ketika dihujani pertanyaan mengenai peristiwa ”pertemuan panas” antara BJ Habibie dan Letjen Prabowo Subianto pada Jumat siang, 22 Mei 1998.


Telah lama, publik penasaran atas teka-teki isi pertemuan kedua tokoh itu. Para jurnalis yang hadir pada peluncuran buku Detik-Detik yang Menentukan karya BJ Habibie di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis malam (21/9), pun sibuk meminta keterangan Sintong perihal adanya pengepungan pasukan Kostrad di sekitar Istana Negara.


”Pak Sintong, apa benar waktu itu suasana tegang sekali?” tanya wartawan kepada Sintong. Tapi, Sesdalopbang pada masa peralihan dari Soeharto ke Habibie itu hanya menjawab dengan senyuman. ”Sudahlah, baca saja. Di situ jelas kan,” ujar Sintong seraya beranjak dari tempat duduknya, kendati berbagai pertanyaan terus menghujani.


Di tengah resepsi yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu, Sintong yang menjadi ”orang dekat” selama BJ Habibie menjabat presiden, memang menjadi bintang. Apalagi dalam buku itu dia disebut-sebut sebagai salah satu orang yang menjadi saksi pertemuan sesuai Habibie memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad. Apalagi kabar yang beredar sudah keburu menuduh bahwa Prabowo tidak terima atas keputusan itu. Dan, kebetulan pada bukunya, Habibie dengan jelas-jelas menuliskan isi pertemuan itu.


Dalam buku yang dipersiapkan Habibie selama setahun itu, memang terasa sekali suasana ketegangan yang melingkupi pertemuan Habibie-Prabowo. Bahkan, dalam buku setebal 549 halaman, suasana mencekam itu gamblang sekali dipaparkan oleh Habibie dengan memakan cukup banyak halaman.

 

Habibie memang mengaku bahwa niat Prabowo untuk melindunginya adalah tulus, jujur, dan tepat. Namun, kebimbangan untuk menemui salah seorang putra begawan ekonomi, Soemitro Djojohadikusumo, saat itu jelas sekali menyergap perasaannya: Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. (hal 95)


Kegamangan Habibie berlanjut hingga menjelang acara pertemuan. Menurut dia, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa senjata: Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad. Namun, bagaimana halnya dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo akan juga diperiksa? Apakah pengawal itu berani? (hal 95).


Adanya pernyataan ini memang sedikit menguak spekulasi yang berkembang mengenai peristiwa itu. Bahkan, sempat disebut-sebut saat itu akan terjadi kudeta segala. Nah, posisi Sintong dalam hal ini menjadi penting karena dia adalah salah satu orang yang terlibat dalam pertemuan itu.


Habibie menulis, sebenarnya ia sangat dekat dengan Prabowo (alinea keempat, hal 101). Bahkan, Prabowo mengidolakan dirinya. Ia pun mengaku merasa jengah dengan desakan Prabowo yang ingin eksklusif menemuinya. Sebab, sebelumnya Habibie sudah sepakat dengan Menhankam/Pangab Wiranto bahwa setiap ada anggota ABRI yang ingin menemuinya, harus seizin atau sepengetahuan Pangab. Dan, setelah Prabowo masuk ke ruangannya dan melihatnya tanpa membawa senjata, Habibie pun merasa puas. ”Hal ini berarti pemberian ‘eksklusivitas’ kepada Prabowo tidak dilaksanakan lagi,” tulis Habibie di halaman 101.


Dialog antara keduanya pun segera terjadi dan dilakukan dalam bahasa Inggris, hal (101-102): ”Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad.” Habibie menjawab, ”Anda tidak dipecat, tapi jabatan Anda diganti.” Prabowo balik bertanya, ”Mengapa?”


Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara. ”Saya bermaksud mengamankan presiden,” kata Prabowo.


”Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie. ”Presiden apa Anda? Anda naif?” jawab Prabowo dengan nada marah. ”Masa bodoh, saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie.


”Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” kata Prabowo.


Habibie menjawab dengan nada tegas, ”Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru. Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja!” ”Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo. ”Ini tidak mungkin, Prabowo,” tegas Habibie.


Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan bawa Sintong masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu pertemuan sudah habis. ”Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan.”


Menanggapi tulisan Habibie, ”orang dekat” Prabowo, Fadli Zon, mengatakan pernyataan Habibie di buku Detik-Detik yang Menentukan itu banyak yang tidak akurat. Sebagian memang berisi fakta. Namun, sebagian lagi berisi asumsi dan khayalannya saja.


”Saya kira banyak ngawurnya. Kalau saya lihat sebagian informasi itu tepat, sebagian lainnya asumsi dan khayalan Habibie. Termasuk soal pengepungan di Istana Negara yang dilakukan pasukan Kostrad. Itu sama sekali tidak benar,” kata Fadli Zon.


Mengapa demikian? Fadli mengatakan kalau Prabowo memang bermaksud melakukan kudeta, maka baginya itu adalah sebuah hal yang mudah. ”Kalau Prabowo mau melakukan kudeta, Habibie segera terguling. Dia tidak ada apa-apanya. Justru Prabowo mendukung reformasi konstitusional. Bahwa, kalau presiden berhenti, maka yang menggantikannya adalah wakil presiden. Jadi isu kudeta adalah fitnah besar,” tegas Fadli.


Adanya tulisan Habibie itu, lanjut Fadli, maka jelas dipastikan adanya seorang yang melakukan kebohongan. Hal ini bisa dilakukan oleh Habibie sendiri atau Wiranto. ”Yang jelas salah satu dari mereka ada yang melakukan kebohongan. Ini fitnah besar. Buku ini dibuat dengan tidak berpijak pada realitas,” tandas Fadli. (muhammad subarkah ) 

 

 

Habibie Harus Adili Pak Harto, Baru Oke

 

Habibie lebih kapabel dibandingkan Megawati, namun putri Bung Karno itu dinilai lebih diterima masyarakat dan bebas KKN ketimbang Presiden RI ketiga. Selain itu, publik menuntut Habibie segera mengadili Pak Harto bila ia terpilih kembali jadi presiden. BARAT balap mobil di putaran terakhir yang salip menyalip, begitulah Megawati dan Habibie. Kedua kandidat presiden tersebut belakangan ini saling membuat langkah politis. Akhir bulan lalu, misalnya, Presiden Habibie mengadakan silaturahmi dengan pimpinan parpol peraih kursi di legislatif. Kubu PDI Perjuangan menafsirkan undangan itu sebagai jebakan, sehingga Megawati menolak hadir.

Di sisi lain, petinggi PDI-P ditengarai mencoba “memecah” partai
berlambang pohon Beringin. Misalnya, move yang dilakukan oleh Megawati dalam acara alumni HMI dan GMNI pekan lalu - dan Kwik Kian Gie dengan menyebut adanya Golkar putih dan hitam. Tampaknya, menjelang babak-babak terakhir, pertandingan akan memanas. Kabarnya, setelah skandal Bank Bali, akan diungkap pula kasus-kasus lain sehingga citra para kandidat presiden semakin buruk.

 

Untuk menangkap pandangan publik terhadap citra calon presiden, Pusat Data dan Analisa Majalah Tajuk, bekerja sama dengan CESDA-LP3ES, mengadakan survei. Pengumpulan pendapat umum yang berlangsung dari 5-30 Juli itu dilakukan dengan mewawancarai secara langsung (face to face) 977 responden di Jakarta, Surabaya, dan Medan.
   

Responden diminta penilaiannya terhadap kapabilitas Habibie dan Megawati, serta kandidat presiden alternatif pilihannya. Ditanyakan pula pendapat mereka soal agenda reformasi yang menjadi komitmen masing-masing figur serta penerimaan masyarakat di dalam dan luar negeri. Pada Tajuk edisi 12, telah dipaparkan hasil survei mengenai
persepsi publik terhadap Megawati. Untuk edisi ini, kami turunkan penilaian masyarakat tentang Habibie.

  
Tampilnya putra kelahiran Pare-pare Sulawesi Selatan di kursi RI 1 membawa suasana baru pada lembaga kepresidenan. Masyarakat semakin mengenali kapabilitas pakar teknologi pesawat terbang ini. Hal itu terlihat dari hasil survei, hanya sedikit responden (di bawah 15%) yang tidak memberi jawaban. Bandingkan dengan sosok Megawati, sekitar 35% responden ragu dalam memberi jawaban terhadap kemampuan putri Bung

Karno tersebut. Dalam soal kepemimpinan, tampaknya masyarakat memandang Habibie biasa saja. Hal ini terlihat dari hasil survei, 52,8% responden menjawab “sedang” untuk pertanyaan kemampuan memimpin. Jawaban yang relatif sama juga tampak dari tiga indikator: visi (berpandangan jauh kedepan), bisa bekerja sama, dan diterima masyarakat. Mereka yang menjawab “sedang” berkisar 40% sampai 50%. Sementara yang menjawab “tinggi” hampir seimbang dengan mereka yang menjawab “rendah”.
   
Bila soal kapabilitas Habibie masih dinilai “sedang”, sebaliknya untuk indikator bebas kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Citra Presiden RI ketiga itu benar-benar anjlok, karena - melihat hasil survei–hanya 32,6% responden yang menilai “sedang” dan “tinggi”. Sementara 44% menjawab “rendah”. Bisa dimengerti bila hasilnya demikian. Karena, Habibie adalah salah seorang murid kesayangan Pak Harto. Hubungan keduanya tidak sebatas atasan-bawahan, namun juga sudah seperti guru-murid, bahkan bapak-anak.

 
Bagaimana perbandingan Habibie dan Megawati untuk kelima indikator di atas? Tampaknya, Habibie sedikit unggul pada tiga indikator: kemampuan memimpin, berpandangan jauh ke depan, dan bisa bekerja sama. Misalnya, untuk kemampuan memimpin. Sebanyak 73,4% responden menilai “sedang” dan “tinggi” bagi Habibie, sementara Mega dipilih oleh 50,7%. Begitu pula untuk pertanyaan berpandangan jauh ke depan. Habibie dipilih oleh 72,1% responden yang memberi jawaban “sedang” dan “tinggi”, sementara Ketua Umum PDI-P dipilih 52,1% responden. Dalam hal kemampuan bekerja sama? Megawati dipilih 56,0%, ini lebih rendah dibandingkan Habibie, yang dipilih 67,8% responden.

   
Namun, Megawati kelihatannya lebih unggul untuk indikator diterima masyarakat dan bebas KKN. Sebanyak 77,5% responden menilai Mega “tinggi” dan “sedang” untuk pertanyaan sejauh mana diterima masyarakat. Bandingkan dengan Habibie, yang dipilih oleh 53,4% responden. Hasil Pemilu Juni 1999 sudah membuktikan kenyataan ini, PDI-P memperoleh 33,7% suara dan Golkar 22,4%. Untuk indikator bebas KKN, Habibie lebih kedodoran. Hanya 32,6% masyarakat di tiga kota yang menilai mantan menristek itu “tinggi” dan “sedang”. Sementara, Megawati lebih unggul, ada 49,3% responden yang menjawab.
   
Terlalu dekat Orba dan Pak Harto memang jadi handicap Habibie. Handicap ini akan menghambat usahanya untuk mengadili mantan Presiden Soeharto dan memberantas KKN. Ketika responden ditanyai sikap Habibie terhadap pengadilan Presiden RI kedua,

jawabannya juga minor. Hanya 3,6% responden yang memberi nilai “tinggi” pada Habibie. Sementara, lebih dari setengahnya (57,9%) menjawab “rendah”. Untuk soal pelik ini, memang Habibie terlihat mengulur-ulur waktu.


Rendahnya penilaian masyarakat terhadap sikap Habibie bisa dilihat pula pada keseriusannya untuk menghapus peran sospol ABRI. Hanya 4,8% responden yang menjawab “tinggi”, lalu 35,5% menilai “rendah”. Selama setahun berkuasa, Presiden Habibie memang sangat bergantung pada dukungan Jenderal Wiranto. Ketergantungan itu menyebabkan Habibie tidak bersedia menghapus Dwifungsi ABRI. Misalnya, dalam rancangan undang-undang pemilu dan susunan kedudukan DPR/MPR yang diajukan pemerintah setahun lalu, ABRI masih diberi 55 kursi.

  
Bagaimana dengan indikator dua agenda reformasi lain: penyempurnaan UUD 1945 dan memperluas otonomi daerah? Dari hasil survei, ternyata sedikit responden yang memberi nilai “tinggi” untuk sikap Habibie. Misalnya, hanya 8,4% masyarakat yang menilai Habibie “tinggi” dalam upayanya mengamandemen UUD 1945. Begitu pula dengan otonomi daerah, cuma 14,2% masyarakat yang menjawab “tinggi”.
   

Dibandingkan dengan Megawati, jawaban responden tersebut menimbulkan tanda tanya. Kita tahu, tahun lalu Habibie secara eksplisit mengusulkan pemilihan presiden secara langsung. Tawaran ini menyiratkan keinginan mantan dirut IPTN itu untuk mengamandemen UUD 1945. Bandingkan dengan Megawati, yang keberatan jika dilakukan amandemen. Baru, setelah didesak kiri-kanan dan dijuluki konservatif, Megawati - dalam pidato politiknya bulan lalu - menerima kemungkinan perubahan UUD 1945.
   
Begitu pula dengan upaya memperluas otonomi daerah. Dari kebijakannya selama ini, Habibie setuju dengan gagasan tersebut. Konsepnya dalam penyelesaian propinsi Timor Timur merupakan lompatan jauh ke depan. Usulan otonomi khusus bagi propinsi itu memberi keleluasaan besar bagi Timtim untuk mengatur diri sendiri. Hal sebaliknya kita lihat pada Megawati. Ketua umum PDI-P ini masih bersikukuh mempertahankan propinsi ke-27 itu sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

   

Responden survei diminta pula pendapatnya soal penerimaan masyarakat terhadap figur calon presiden. Habibie tampaknya relatif lebih diterima oleh masyarakat muslim (44,8%) dan non-Jawa (32,2%). Sebaliknya Megawati, penerimaan masyarakat non-muslim (61,0%) dan Jawa (62,2%) lebih banyak. Akan tetapi, penerimaan masyarakat di luar Jawa untuk Ketua Umum PDI-P juga tetap signifikan.
   
Bisa dipahami bila gambarannya seperti itu. Pemberitaan selama inimencitrakan kedekatan Habibie dengan umat Islam. Ketika Habibie menjadi ketua umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), maupun setelah menjadi wapres dan presiden. Selain itu, media massa juga pernah memberitakan polemik antara mantan PM Singapura Lee Kuan Yue dan Habibie. Atau juga, penolakan Sofjan Wanandi - pengusaha keturunan Tionghoa - terhadap pencalonan Habibie menjelang Sidang Umum MPR Maret 1998.

 

Untuk penerimaan masyarakat internasional, sebagian besar responden menilai, Habibie dan Megawati diterima komunitas global. Habibie memang sudah puluhan tahun menjadi menteri, dan di dunia internasional terkenal sebagai pakar teknologi dirgantara.

Pengalamannya belajar dan bekerja di Jerman membantu dirinya akrab dengan institusi
internasional. Dalam penilaian responden survei, Megawati juga diterima masyarakat global. Media massa pernah mengungkap kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton.

   
Setelah menilai kapabilitas dan sikapnya terhadap agenda reformasi, responden diminta harapannya pada figur calon presiden dalam 100 hari memerintah. Ternyata, cukup banyak masyarakat di tiga kota yang disurvei (44,9%) ingin Habibie mengadili mantan Presiden Soeharto. Soal ini memang jadi ganjalan Habibie. Jadi, masyarakat terus-menerus menuntut putra kelahiran Pare-pare itu mengadili Pak Harto, “guru besarnya” di bidang ilmu politik. Tetapi, pengadilan terhadap mantan Presiden Soeharto juga jadi tuntutan masyarakat bila Megawati terpilih jadi presiden. Ada 41,7% responden yang memberi jawaban tersebut. Pak Harto kelihatannya jadi tonggak yang harus disingkirkan, oleh siapapun yang terpilih jadi presiden.